Kalo diminta untuk milih beli baju atau beli mainan, jawaban pasti dari kami (saya dan suami) adalah Mainan. Halahhhh kayak kurang mainan masa kecil aja deh. Tapi bener kok. Ntah kenapa kebetulan kita berdua hobby banget ngumpulin mainan. Tapi tentunya tidak semua mainan yang menarik lantas kita beli. Tapi ada beberapa jenis mainan yang memang susah banget nahan diri dari godaan untuk membeli. Kadang lebih lucu lagi, karena kami lebih semangat ketimbang Madhava -- anak laki-laki kami (yah pada dasarnya anak-anak cukup senang dengan mainan apa adanya misal tali, tonkat, balon bola dan sejenisnya ditambah lagi dengan cepat bosannya Madhava terhadap satu jenis mainan, terutama mainan yang tidak menantang atau tidak lucu -- menurut dia !!!).

Ulang Tahun ke-5 yang lalu, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, kali ini kami  telah mendiskusikan dengan panjang lebar bersama  Madhava untuk tidak mengadakan "Geburtstagparty", dengan berbagai alasan tentunya (meskipun pada dasarnya, alasan utama si orang tua adalah.... CAPE DEEEEEEEEEEHHHH abis ngangkut-ngangkut barang masuk ke kontainer). Tapi namanya orang tua, kayaknya kok ndak tega juga liat Madhava kurang jinkrak-jinkrak dihari Ultah nya (hehheehhe soale biasanya kalo party dia selalu membuka kan pintu untuk para tamu sambil berjinkrak-jinkrak).

Jadilah kami bertiga sepakat untuk jalan-jalan ke kota. Sepanjang perjalanan dengan Strassenbahn (emang cuma 10 menit sih, dari rumah sampe ke pusat kota pake Trem ini), kami berdiskusi dengan Madhava hingga mencapai keputusan "Dhava ndak mau makan di restoran, mendingan beli mainan -- TAPI dengan catatan Dhava boleh milih sendiri mainannya -- sebatas uang yang ada di kantong Dhava" (heheheh -- karena Dhava  masih 5 tahun, kita  sepakat hadiah ultah yang dia boleh pilih sendiri itu berharga tidak lebih dari 10 EU -- sambil kedip2x mikirin .... apa adaaaaaaaaaa ya di Jerman ini, mainan seharga 10 EU ???). Putar sana sini, akhirnya sampai lah Dhava di Karstadt lantai paling atas alias di bagian mainan anak -- jangan ngebayang lantainya ada 6 ato 10 yah, di Bielefeld ini toko besar model Karstadt juga cuma 2 lantai heheheh). Seperti biasa, yang di lirik Madhava pertama adalah KERETA API kayu. Hmmmm, ini memang sudah sejak 2 tahun terakhir jadi mainan kesenengan Dhava (mestinya ketularan dari Mamita dan Papito yang juga seneng main kreta api dong). TAPI berhubung label di kreta api itu lebih dari 10 Eu, tentunya Dhava ndak berani minta beli kereta api heheh. Soalnya dia harus bayar sendiri ke Kasir. Keliling lagi, cari sana sini, eh dia liat satu koper isinya 2 Dino, 1 Mobil Jeep dan Dinoland (kecil sih dan dari plastik -- tentu buatan negara tirai bambu hehehh). Halahhhhhhhhhh kok ya mainan kayak gini yang dipilih. Serentak si Mamita dan Papito mengerluarkan bunyi-bunyian protes. Tapi Dhava juga berkeras menagih janji -- KAN DHAVA BOLEH PILIH SENDIRI lagi pula aku BUTUH yang kayak gini !!!. Hahahhaha janji ya harus ditepati dong. Gimana sih Mamita dan Papito ini. Tapi tetap lah kita berusaha menunjukkan alternatif lain. Yah kira-kira mainan yang lebih berguna gitu loh. Play Doh (mainan lilin yang untuk dicetak2x itu) -- ndak mau karena Dhava dah punya banyak cetakannya dan lilinnya bisa bikin dari tepung !! (nah lo !). Bastel Set  alias bahan prakarya pake kertas dkk, ndak mau juga karena di rumah dah banyak gunting, lem, kertas dkk (bener sih), Modelbau (Ravell model mobil yang hrs dirangkai dulu) -- ndak mau juga karena ada tulisan di kotaknya untuk anak usia 7+ (halahhhh sok tau dehhh ). Yah sutraa lah akhirnya dengan puas, Dhava bergegas bayar ke kasir. Mamita dan Papito cuma senyum-senyum (yah kali ini ngalah lah beli mainan yang gak terlalu bermanfaat hahahah). Memang kadang kita sebagai orang tua berkeinginan dan juga mungkin sebaiknya mengarahkan mainan model apa yang bermanfaat buat anak, tapi ada juga sisi lain yang harus dilihat yaitu apakah anak kita butuh mainan itu ? Butuh (untuk sebuah mainan) tentunya sifatnya relatif. Menurut ortu jenis mainan yang mengasah kreativitas anak adalah sebuah kebutuhan, tapi dari sisi anak 'mungkin' ada beberapa kebutuhan dan kepuasan lain dari mainan. Misal anak butuh mainan yang pas dengan fantasi nya pada usia tertentu (misal Dhava yang saat ini sedang senang berfantasi dengan Dino dan Pirate atau bajak laut) -- meski ndak pas dengan 'maunya' ortu, tapi yah memang sedang di situ kebutuhan si anak. Ini lah yang kadang terlewatkan dari mata ortu, terutama bila ortu terlalu ambisius 'membantu' dan 'mengarahkan' anak dalam bermain. Mungkin ada baiknya, kita orang tua berusaha untuk mengerti dan menemani keinginan bermain dan fantasi anak dalam bermain. Mungkin juga ada batasan-batasan yang harus dijaga dalam mengembangkan fantasi ini. Tapi rasanya, namanya 'anak' -- umumnya fantasinya juga fantasi anak (kalo anak berfantasi kayak orang dewasa, nah itu baru perlu di waspadai deh heheehh).
Jadi kesimpulannya, anak mungkin butuh mainan yang sesuai dengan kebutuhan pikiran, bathin, motorik dan fantasi nya (ini cuma pemikiran sedetik dari seorang ibu tanpa melihat teori2x pendidikan loh) -- ntar saya tambahin lagi kalo udah liat teori yang bener yak !!!  Tapi yang jelas, kita orang tuanya hendaknya menyempatkan diri untuk bermain bersama si anak, tanpa memaksakan keinginan ortu thd anak. Woookkehh, segitu dulu catatan hari ini, selagi Madhava tidur (salah satu keajaiban dunia adalah kalo Madhava bisa tidur siang). Jadi sang Mamita bisa ketik2x bentar, sambil minum jahe anget dan dengerin bunyi gemlutuk hujan es di luar ...... haduuuhh kok ya kasian bunga-bunga baru pada mo muncul menyambut musim semi, eh ketiban es lagi !!! Emang Maret April adalah bulan tak terduga untuk cuaca di Bielefeld ini. See you next time ! (moga2x gak males nulis lagi deh!)


yulikrisna wrote on Mar 26, edited on Mar 26
he..he...akirnya nuliz lageeeeee......
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help